Golkar

Golkar

Rabu, 24 Agustus 2016

Reog Ponorogo, Tradisi Dua Negeri di Pesisir Selatan Jawa

Reog Ponorogo,Tradisi Dua Negeri 
di Pesisir Selatan Jawa


Kesenian yang memiliki kata dasar “seni” dan memiliki arti kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa)”. Sedangkan Reog adalah sebuah kesenian tradisional yang merupakan perpaduan antara tari-tarian dan gerakan akrobatik yang diiringi dengan gamelan sebagai pengatur irama dalam pertunjukan tiap pementasannya. Kesenian Reog berasal dari propinsi Jawa Timur tepatnya kabupaten Ponorogo. 


Foto : Jongetje poserend bij de parafernalia voor Reog Ponorogo, te Jakarta ( Heins, E. 1982-8-31 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/)

Reog merupakan salah satu kesenian tradisional dari sekian banyak kesenian tradisional yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam buku milik Dinas Pendidikan Ponorogo berjudul mengenal Reog Ponorogo, kesenian ini lahir dan besar di kota yang sekarang dikenal dengan nama Ponorogo. Dalam proses terciptanya kesenian Reog ini terdapat dua sudut pandang yaitu menurut legenda dan menurut sejarah. Kata Reog diambil dari bebunyian atau suara yang dikeluarkan oleh gamelan pengiring ketika tarian ini dipentaskan, pencetus nama Reog adalah Ki Ageng Surya Alam (kumpulan kliping tari-tarian daerah) ada pula sumber yang mengatakan kata “Reog” atau “reyog” memiliki arti cukup ilmu, berwibawa serta luhur budinya.



Foto :  Leden van de Reog Ponorogo groep o.l.v. Pak Supapan, te Jakarta ( Heins, E. 1982-8-31 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/)



Menurut legenda masyarakat Ponorogo kesenian Reog ini menceritakan tentang  perjuangan seorang raja yang akan melamar seorang permaisuri namun pada akhirnya sang raja gagal untuk meminang sang putri dan terciptalah pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009) legenda adalah sebuah cerita rakyat pada zaman dahulu yang berhubungan dengan peristiwa sejarah. Sedangkan, menurut sejarahnya awal terciptanya kesenian ini sekitar tahun 1200 masehi oleh seorang patih Bantarangin bernama Raden Klana Wijaya atau biasa disebut Pujonggo Anom adalah sebuah pertunjukan satir yang mana di tujukan untuk seorang raja bernama Raden Klono Sewandono yang terlalu tunduk kepada permaisurinya yang mengakibatkan sang Raja lalai dalam memimpin negerinya.

Ada pula sumber lain yang diperoleh dari buku mengenal Reog Ponorogo (Dinas Pariwisata Ponorogo) menceritakan hal yang mendasari terciptanya kesenian Reog ini adalah inisiatif dari sang patih kerajaan Bantarangin yaitu patih Pujangga Anom dalam menghibur Rajanya yaitu Raja Kelono Sewandono yang ditinggal pergi oleh istrinya yaitu Putri Dwi Songgo Langit ketika diketahui sang istrinya tidak dapat memiliki anak. Sesungguhnya sang raja berkali-kali mencoba menahan kepergian sang permaisuri yang berkeinginan kembali kenegerinya yaitu Kediri untuk menjadi seorang petapa. Akan tetapi keingin sang permaisuri sudah bulat dan Raja pun melepas kepergian sang permasurinya dengan kesedihan. Karena itulah sang patih mementaskan sebuah pertunjukan tari-tarian yang menggunakan kepala harimau dan seekor merak yang hinggap diatasnya, hal ini dimaksudkan untuk mengenang kembali masa-masa perjuangan sang raja dalam mempersunting Putri Dwi Songgo Langit.

Akan tetapi dari setiap pementasan maupun pagelaran yang disajikan oleh para seniman Reog saat ini menggunakan versi dari R. Klana Wijaya atau biasa disebut dengan Pujangga Anom. Yang berceritakan tentang perjuangan raja Bantarangin Klono Sewandono dalam mempersunting putri dari kerajaan Kediri Putri Dwi Songgo Langit.

Sebagian versi menyebutkan bahwa pada suatu acara rutin tahunan dimana para pejabat daerah harus menghadap ke ibukota Majapahit sebagai tanda kesetiaan, Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker (Sekarang Ponorogo), mempersembahkan tarian khusus buat Sang Prabhu. Tarian ini masih baru. Belum pernah ditampilkan dimanapun. Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piranti tari bernama Dhadhak Merak. Yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan bulu-bulu burung merak diatasnya. Dhadhak Merak ini dimainkan oleh satu orang pemain, dengan diiringi oleh para prajurid yang bertingkah polah seperti banci.(Sekarang dimainkan oleh wanita tulen). Ditambah satu tokoh yang bernama Pujangganom dan satu orang Jathilan. Sang Pujangganom tampak menari-nari acuh tak acuh, sedangkan Jathilan, melompat-lompat seperti orang gila.
Sang Prabhu takjub melihat tarian baru ini. Manakala beliau menanyakan makna dari suguhan tarian tersebut, Ki Ageng Kutu, Adipati dari Wengker yang terkenal berani itu, tanpa sungkan-sungkan lagi menjelaskan, bahwa :
  • Dhadhak Merak adalah symbol dari Kerajaan Majapahit sendiri.
  • Kepala Harimau adalah symbol dari Sang Prabhu.
  • Bulu-bulu merak yang indah adalah symbol permaisuri sang Prabhu yang terkenal sangat cantik, yaitu Dewi Anarawati.
  • Pasukan banci adalah pasukan Majapahit. Pujangganom adalah symbol dari Pejabat teras, dan
  • Jathilan adalah symbol dari Pejabat daerah.


Foto : Kesenian Reog Pada Tahun 1900-1940 an (File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Eerste bedrijf uit een Kuda Kepang spel met een tijger en dansers op stokpaarden tijdens een volksfeest te Ponorogo TMnr 60042407.jpg)



Foto : Kesenian Reog Pada Tahun 1920 an (File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Derde bedrijf uit een dansvoorstelling met topeng waarin Kjai Goenoreso de tijger bedwingt TMnr 10004818.jpg)




Foto : Kesenian Reog Pada Tahun 1928 (Koleksi Troppenmuseum)


Dimana Arti sesungguhnya adalah dimana pada saat Kerajaan Majapahit, ibarat diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung Merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya dibawah selangkangan sang burung Merak. Para Prajurid Majapahit sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, sangat memalukan! Para pejabat teras acuh tak acuh dan pejabat daerah dibuat kebingungan menghadapi invasi halus, imperialisasi halus yang kini tengah terjadi. Dan terang-terangan Ki Ageng Kutu memperingatkan agar Prabhu Brawijaya berhati-hati dengan orang-orang Islam!

Kesenian sindiran ini kemudian hari dikenal dengan nama REOG PONOROGO!

Reog Ponorogo dari Masa kemasa

Makna yang terkandung dalam Pentas seni Reog Ponorogo adalah sebuah pertunjukan satir yang ditujukan bagi seorang raja dimasa kejayaan Majapahit yang terlalu tunduk oleh Permaisurinya, yang diciptakan oleh seorang patihnya. Dengan mementaskan pertunjukan tersebut patih mencoba mengumpulkan masa dan bala tentara untuk penggulingkan pemerintahan yang hampir jatuh untuk kembali mendirikan kerajaan Majapahit yang sebenarnya. Perekrutan masyarakat saat itu untuk dijadikan bala tentara dan dilatih oleh sang patih yang kemudian menjadi seorang Warok.


Foto : Reog Ponorogo, sekitar 1949 via https://3.bp.blogspot.com




Foto : Reog Ponorogo Kini


Warok sendiri selain merupakan prajurit atau orang yang memiliki kekuatan kanuragan, biasanya dijadikan sebagai pemimpin suatu desa pada masa-masa penjajahan. Selain itu tradisi gemblak mulai dihilangkan oleh para Warok sekitar tahun 1980. Tradisi gemblak merupakan sebuah tradisi dimana para Warok menjaga ilmu kanuragannya dengan memelihara anak kecil yang tampan untuk dijadikan teman teman tidurnya. Dikarenakan para Warok mendapat pantangan untuk tidak melakukan hubungan dengan wanita atau istrinya. Dikarenakan norma di masyarakat sudah berubah maka tradisi ini digantikan menjadikan para gemblak sebagai anak asuh dari para Warok, mereka disekolahkan dan dirawat seperti anak mereka sendiri. Biasanya para gemblak adalah para penari jathilan atau biasa disebut juga penari kuda kepang. Semenjak saat itu para penari jathilan dapat dimainkan oleh anak perempuan.

Kabupaten Wonogiri telah lama menjadi buah bibir di kalangan budayawan Reyog dan masyarakat Ponorogo. Betapa tidak, setelah tiga tahun berturut-turut sukses menjadi juara dalam Festival Reyog Nasional sejak tahun 2005, penampilan kelompok Reog Wonogiri sangat atraktif dan mampu menyihir ribuan penontonnya. Atraksi-atraksi serta tari yang ditampilkan Reog Wonogiri jauh dari kesan monoton. Itulah kelebihan kelompok kesenian Reog Wonogiri, setiap kali tampil selalu saja ada inovasi baru. Dalam pertunjukannya, Wonogiri menampilkan sesuatu yang baru, terdapat warna kolaborasi budaya Bali terutama di tari Warok. 



Foto : Reog Ponorogo Kini


Jika biasanya banyak orang menilai tari Warok sangat membosankan, justru hal inilah yang menjadi kelebihan kelompok kesenian Reyog yang satu ini. Dengan membawa umbul-umbul serta gerakan yang atraktif, tari Warok akhirnya memberikan kesan tersendiri. Begitu juga dengan tari Dadak Merak, Pujangganong, Kelana Suwandono juga Jatilan, mampu memberikan gerakan dan hiburan yang atraktif dan bisa dikatakan sempurna.


Berikut ini  Infografis Sejarah Reog Ponorogo :



Gambar : Infografis Reog Ponorogo : (Edwin Agus via http://2.bp.blogspot.com) (https://www.facebook.com/edwin.a.prasetyo.1?ref=ts&fref=ts)





WONOGIRI DALAM RENTANG JAMAN (1)

WONOGIRI DALAM RENTANG JAMAN 
(Bagian-1)



Gambar : An early 18th-century Dutch map from a time when only the north coastal ports of Java were well known to the Dutch. via https://en.wikipedia.org/wiki/File:Java-Map.jpg

Gambar : Wonogiri: opgenomen door den Topografischen Dienst in 1919-1922 / Topografische Dienst. (Artist Date 1927 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/)

Wonogiri, (Bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦮ​ꦤ​ꦒꦶꦫꦶ, Latin, Wånågiri, secara harfiah "hutan (di) pegunungan"), adalahkabupaten di Jawa Tengah. Secara geografis Wonogiri berlokasi di bagian tenggara Provinsi Jawa Tengah. Bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, bagian selatan langsung di bibir Pantai Selatan, bagian barat berbatasan dengan Gunung Kidul di Provinsi Yogyakarta, Bagian timur berbatasan langsung dengan ProvinsiJawa Timur, yaitu Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Pacitan. Ibu kotanya terletak di Kecamatan Wonogiri. Luas kabupaten ini 1.822,37 km² dengan populasi 928.904 jiwa.

Sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri dimulai dari embrio "kerajaan kecil" di bumi Nglaroh Desa Pule Kecamatan Selogiri. Di daerah inilah dimulainya penyusunan bentuk organisasi pemerintahan yang masih sangat terbatas dan sangat sederhana, yang dikemudian hari menjadi simbol semangat pemersatu perjuangan rakyat. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis perjuangan Raden Mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri (Wiradiwangsa) yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.



Gambar : Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 – meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun) adalah pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan.

Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, gubernur VOC, karena di dalam peperangan RM. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Ia menikah dengan seorang wanita petani bernama Rubiyah, yang terkenal dengan julukannya "Matah Ati" atau Raden Ayu Kusuma Patahati.


Mulai saat itulah Nglaroh menjadi daerah yang sangat penting, yang melahirkan peristiwa-peristiwa bersejarah di kemudian hari. Tepatnya pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabi'ul awal (Mulud) Tahun Jumakir , Windu Senggoro : Angrasa retu ngoyang jagad atau 1666, dan apabila mengikuti perhitungan masehi maka menjadi hari Rabu Kliwon tanggal 19 Mei 1741 ( Kahutaman Sumbering Giri Linuwih), Ngalaroh telah menjadi kerajaan kecil yang dikuatkan dengan dibentuknya kepala punggawa dan patih sebagai perlengkapan (institusi pemerintah) suatu kerajaan walaupun masih sangat sederhana. Masyarakat Wonogiri dengan pimpinan Raden Mas Said selama penjajajahan Belanda telah pula menunjukkan reaksinya menentang kolonial.
Gambar : Ilustrasi pertempuran yang dipimpin Raden Mas Said via  (Istimewa/ngawengunungkidul.wordpress.com)


Upaya perlawanan Pangeran Sambernyawa diawali dengan menyusun kekuatan dan mendirikan sebuah pemerintahan sederhana di daerah Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Peristiwa itu terjadi pada hari tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) tahun Jumakir windu Sengoro, dengan candra sengkala Angrasa Retu Ngoyag Jagad atau tahun 1666 dalam kalender Jawa. Dalam perhitungan kalender Masehi bertepatan dengan hari Rabu, tanggal 19 Mei 1741 Masehi.

Pada masa itu, situasi tanah Jawa dalam situasi krisis. Pada tahun 1740, di Batavia terjadi pembantaian orang Tionghoa yang dilakukan Kompeni Belanda (VOC) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Adrian Valckenier. Peristiwa itu memicu pembangkangan massal dan perlawanan bersenjata di Surakarta yang dikenal sebagai Perang Tjina melawan Ollanda. Orang Tionghoa dan Jawa bersatu melawan Belanda. Ibu Kota Mataram di Kartasura yang dianggap dekat dengan VOC turut diserbu pasukan Tioanghoa dan Pasukan Jawa. Komandan pasukan Tionghoa, Kapten Sie Pan Jang diketahui menjadi guru militer Raden Mas Said.

Kalangan Istana Mataram terpecah dalam dua kelompok. Faksi Patih Natakusuma termasuk Raden Mas Said memilih melawan VOC dengan jalan bergabung bersama perlawanan pasukan Tionghoa. Raden Mas Said kemudian memilih pergi meninggalkan Keraton Kartasura, menyusun kekuatan di Laroh, sekitar Wonogiri. Raden Mas Said memimpin pasukan pemberontak yang bergerilya selama 16 tahun.

Dalam perjuangannya, Raden Mas Said melakukan kerjasama dengan Sunan Kuning dan Pangeran Mangkubumi. Ketika bekerjasama dengan Sunan Kuning, Raden Mas Said dibekali dengan kepandaian mengatur strategi serta cara menggunakan senjata dan kemudian diangkat sebagai senopati yang bergelar Pangeran Prangwedana memimpin 300 orang prajurit berani mati. Pertempuran pertama yang dilakukan bersama Sunan Kuning adalah melawan prajurit Kompeni dan prajurit dari Ternate. Hasil dari pertempuran tersebut adalah Raden Mas Said memperoleh kemenangan. Setelah menaklukkan Madiun dan Ponorogo, Raden Mas Said berpisah dengan Sunan Kuning yang kemudian tertangkap dan di buang ke Ceylon.

Sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri terkait erat dengan perjuangan Raden Mas Said ketika mulai menyusun kekuatan di daerah Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri (19 Mei 1741 M). Di daerah inilah dimulainya penyusunan bentuk organisasi pemerintahan yang masih sangat terbatas dan sangat sederhana. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis perjuangan Raden Mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri (Wiradiwangsa) yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.

Jerih payah pengeran Samber Nyawa (Raden Mas Said) ini berakhir dengan hasil sukses terbukti beliau dapat menjadi Adipati di Mangkunegaran dan Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya ( KGPAA) Mangkunegoro I. Peristiwa tersebut diteladani hingga sekarang karena berkat sikap dan sifat kahutaman ( keberanian dan keluhuran budi ) perjuangan pemimpin, pemuka masyarakat yang selalu didukung semangat kerja sama seluruh rakyat di Wilayah Kabupaten Wonogiri

Berikut ini foto-foto Wonogiri dalam rentang sejarah pada tahun 1900 an dimana pemerintah Hindia Belanda paska kebangkrutan VOC memiliki peran penting dalam perkembangan wilayah Wonogiri dimana di daerah yang langsung ada di bawah pemerintahan administratif Hindia belanda termasuk wilayah praja kejawen (Vorstenlanden) yaitu daerah Surakarta – Jogjakarta yang tidak terkena pelaksanaan sistem tanam paksa tetapi berlaku sistem persewaan dan setelah 1 Januari 1800 Indonesia beralih tangan dari VOC ke pemerintah Hindia Belanda dan pada tahun 1830 dimulailah masa penjajahan yang sebenarnya dalam sejarah Indonesia khususnya di wilayah Wonogiri. Di masanya, dalam sistem persewaan tanah dipertegas penggantian kedudukan para patuh (tuan kebun) oleh para penyewa tanah. Hubungan feodal tradisional tetap berlaku antara patuh dan petani. Selain itu, petani pun masih mendapat beban pajak dan tenaga kerja dari penguasa bumiputra. Dengan demikian, petani atau wong cilik mendapat beban rangkap, yaitu dari penyewa, Pemerintahan Hindia Belanda, dan penguasa bumiputra yang dikumpulkan dari berbagi sumber :



Foto : Europese woning te Wonogiri. (Circa 1910 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/)


Foto : Pakoe Boewono X, soesoehoenan van Soerakarta, en zijn echtgenote Ratoe Mas op bezoek te Wonogiri. Uiterst links met hoed: J.P.G. Rademaker; direct achter de soesoehoenan: resident P.M. Letterie. Person ; Ratoe Mas, Rademaker, J.P.G., Pakoe Boewono X, Letterie, P.M. (Circa 1922-02 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/)


Foto : Administrateurswoning van indigo- en koffieonderneming Tiris bij Wonogiri (Circa 1900 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/)




Foto :  Administrateurswoning van onderneming Mento Toelakan bij Wonogiri (Circa 1900 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/)


Foto : Hydraulische pers op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri (Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)


Foto : Snijden van agaveblad door een vrouw op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri (Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)



Foto : Lijnbaan op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri via (Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)



Foto : Vervoer per ossenkar van agavebladeren op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri via (Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)

Foto : Ophangen van de vezels om te drogen op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri. via (Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)


Foto : Sorteerloods en schroefpers op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri.(Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)




Foto : Transport van agaveblad per buffelkar op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri (Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)

Foto : Vrouwen sorteren vezels op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri (Circa 1930 via http://media-kitlv.nl/)






ANAK MUDA TERJUN KE POLITIK






Tidak bisa dipungkiri bahwa pemuda memiliki peran yang besar dalam perjalanan bangsa ini. Ketika bangsa Indonesia masih dalam penjajahan, para pemuda memberontak. dari berbagai peristiwa besar dan bersejarah yang terjadi di Negara ini melibatkan anak muda sebagai tokoh utamanya.
Budi Oetomo, Sumpah Pemuda, Proklamasi, peristiwa 1998, dan bahkan hingga sekarang pun pemuda masih menjadi ‘Watch Dog’ bangsa ini, bisa dilihat dari aksi demo yang sering terjadi. Hampir seluruhnya melibatkan pemuda.
Namun, apa yang kita lihat sekarang? Perpolitikan Indonesia didominasi oleh kaum tua. Anak muda pun hanya menjadi orang kedua, orang ketiga, bahkan orang ke sekian dalam dunia politik masa kini. Suara anak muda sering tidak diperhitungkan di kancah politik. Pemuda hanya dijadikan sebagai basis utama ketika mereka yang ‘tua’ berkoar-koar untuk menggalang dukungan. Tetapi setelah itu, mulut anak muda dibungkam.
Ada juga anggapan bahwa anak muda tidak memiliki pengalaman. Masih muda, masih awam. Belum memiliki pengalaman apa-apa di dunia politik. Hal ini adalah langkah yang paling sering dilontarkan oleh generasi tua kepada anak muda. Dengan anggapan bahwa mereka lebih lama ‘makan asam – garam’ dalam perpolitikan, jadi merekalah yang harus dinomorsatukan. 
Seperti pepatah yang dibuat oleh presiden kita yang pertama, bapak Soekarno, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” 
Siapa yang tidak tahu ungkapan yang keluar dari  mulut seorang Ir. Soekarno, Bapak pendiri bangsa ini. Bukan tanpa alasan kalimat itu keluar dari mulut beliau. Tetapi kepercayaan dan keyakinannya akan kekuatan serta kemampuan anak muda sangatlah besar, sehingga Ia bisa berbicara seperti itu.
Namun, penyebab hal tersebut juga berasal dari anak muda itu sendiri. Kita kurang menghargai apa itu politik. Anak muda zaman sekarang bahkan cenderung menghindari politik. Bahkan ketika menonton acara televisi, tayangan berita cenderung dihindari, apalagi yang berkaitan dengan politik.
Ada stigma yang tertanam dalam benak anak muda yaitu mereka yang terlibat dalam politik adalah orang-orang tua, dan apabila yang muda memaksakan diri untuk ikut berpolitik, pasti akan ada banyak hambatan.
Apakah pandangan tersebut salah? Tidak sepenuhnya. Dilihat dari beberapa kasus yang terjadi, seperti politisi-politisi muda yang terkena kasus, dan juga kualitas dan kredibilitas para anak muda yang turut berpolitik yang kebanyakan dari mereka berasal dari kaum selebritis, sehingga muncul keragu-raguan terhadap mereka. Walaupun ada sebagian selebritis yang memang pantas berpolitik.
Hal-hal tersebut muncul dan menjadi trauma tersendiri bagi kaum muda kita. Akibatnya, kita kaum muda menjadi takut bersuara secara gamblang. Kesempatan kita untuk bersuara hanya muncul ketika ada aksi demonstrasi. Setelah itu, kita hilang dan pergi.
Suatu pertanyaan besar bagi kita. Apakah generasi muda sudah tidak pantas lagi menjadi bagian dari perpolitikan? Ataukah perpolitikan masa kini yang menganak-tirikan generasi muda? Arah perjalanan bangsa ini kelak akan menjadi tanggung jawab kita kaum muda, dan salah satu bagian besar dari bangsa ini adalah perpolitikan. Bagaimana kita akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik jika kita tidak berani berbicara politik?
Politik bukan merupakan makanan para generasi tua saja, generasi muda pun perlu akan hal itu. Generasi muda, sebagai penerus bangsa sudah seharusnya berperan dalam perpolitikan, bicara tentang politik, dan memajukan politik itu sendiri.
Mengapa hal ini ditekankan? Karena anak muda memiliki kekuatan untuk membawa perubahan bagi bangsa ini, dan karena anak muda adalah penerus bangsa ini. Anak muda perlu diberikan kesempatan untuk turut serta mengambil bagian dalam penentuan arah bangsa ini ke depan. 
Anggapan bahwa anak muda tidak memiliki pengalaman dalam politik adalah salah. Jiwa muda adalah jiwa yang penuh dengan keinginan dan rasa nasionalisme yang tinggi. Perubahan yang besar itu adalah perubahan yang datang dari generasi muda.
Sudah seharusnya kita generasi muda menyadari bahwa ‘kita’ dan ‘politik’ tidak boleh terpisahkan. Tunjukkan peran kita dalam politik, agar kontribusi kita bagi negara ini terasa. Demonstrasi bukan lagi menjadi sarana tepat untuk kita mengontrol pemerintahan. Maju dan berpartisipasi secara nyata, agar suara kita didengar. Dengan terjun langsung dalam dunia politik, secara perlahan kita bisa menghapus stigma miring tentang generasi muda.
Melalui politik kita mengetahui kondisi negara ini, karena politik merasuk ke dalam setiap aspek pembangunan bangsa. Dapatkah bangsa ini berkembang lebih baik, jika kita sendiri tidak tahu kondisi negara saat ini? Saat yang tepat untuk menata kondisi negara ini adalah sekarang, bukan saat kita tua nanti.
Negara ini sudah sangat kacau. Dan sebagai generasi muda yang adalah kaki, tangan, dan mata bangsa ini, kita harus ambil bagian dalam politik, agar kita juga mengetahui seperti apa kondisi negara ini sekarang. Politik adalah alat yang tepat untuk mengubah wajah negara ini.
Sebagai bagian dari negara, peran kita sangat dibutuhkan. Apakah kita memilih untuk sekedar jadi penonton saja? Ataukah kita mau ambil bagian dan berperan dalam perpolitikan, dan turut menentukan bagaimana bangsa ini kedepan? Partisipasi kita dalam politik akan membantu kita dalam memandang realitas yang ada pada bangsa ini. Visi dan misi dalam politik sudah sangat jelas, dan memudahkan kita untuk turun langsung dan merasakan kondisi bangsa ini sekarang.
Kualitas seorang anak muda ditentukan ketika dia berani berbicara hal yang besar, dan mau ambil bagian dalam hal tersebut. Berpolitik pada dasarnya adalah wujud dari budaya demokrasi itu sendiri. Demokrasi menuntut kebebasan seseorang, namun bebas yang bertanggung jawab.
Generasi muda bebas untuk berpolitik, tetapi harus memperhatikan tanggung jawabnya, yaitu berpolitik untuk memajukan negara. Kita adalah generasi muda yang menjadi pilar bangsa ini. Apakah kita hanya mau berdiam diri dan hanya menjadi penonton setia, ataukah kita maju menjadi agen-agen perubahan bangsa ke depan?
Suara dan opini kita jangan hanya dikeluarkan melalui demonstrasi, tetapi mari bersama kita majukan politik lewat peran kita di dalam perpolitikkan itu sendiri. Tunjukkan bahwa kita adalah penerus bangsa yang siap untuk membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Hapuskan pandangan bahwa anak muda tidak pantas berpolitik. Bawa kualitas anak muda sejati dalam perpolitikkan. Berdiri, dan katakan dengan lantang “Saya adalah penerus bangsa! biarkan saya berpolitik.”
“Jalan telah mereka rintis, sekarang tugas kita menapakinya”

Penulis : Elmansyah Putra ( Kayu Kul, Pegasing, Aceh Tengah Pekerjaan: Mahasiswa) 

Kamis, 18 Agustus 2016


6 Lokasi Wisata Air di Kabupaten Wonogiri yang Keren.


Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu kabupaten yang berada di Jawa Tengah dan masuk dalam eks karesidenan Surakarta. Lokasi Kabupaten Wonogiri adalah di sebelah selatan dari Kota Solo. Kabupaten Wonogiri berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo di sebelah utara, bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo, Pacitan dan Magetan Jawa Timur serta bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul Yoyakarta. Wilayah selatan Wonogiri yang berbatasan dengan Laut selatan menyebabkan Kabupaten Wonogiri memiliki beberapa obyek wisata pantai yang cukup indah. Namun karena kurangnya penataan dan promosi dari pemeritah menyebabkan tempat wisata pantai di Wonogiri kurang begitu ramai dikunjungi. Berikut adalah 12 Tempat Wisata di Kabupaten Wonogiri yang Indah selengkapnya :

1. Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.
Bicara tentang wisata di Wonogiri rasanya tak lengkap kalau tidak membahas Waduk Gajah Mungkur. Tempat Wisata Waduk Gajah Mungkur telah menjadi salah satu ikon wisata di Wonogiri. Waduk Gajah Mungkur letaknya hanya berjarak sekitar 3 km dari Kota Wonogiri. Waduk ini merupakan waduk buatan yang dibangun untuk tujuan pertanian. Waduk Gajah Mungkur mulai dibangun pada tahun 1970 dan selesai pada tahun 1978. Waduk Gajah Mungkur memiliki luas sekitar 8800 ha dan dapat mengairi ribuan hektar sawah di Kabupaten sukoharjo, Sragen, Karanganyar dan Klaten. Saat ini di okasi Waduk Gajah Mungkur dijadikan sebagai tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh berbagai wisatawan dari berbagai daerah. Wisatawan dapat menikmati panorama waduk yang indah serta menikmati berbagai hasil ikan dari waduk yang sangat lezat.



2. Pantai Nampu
Tempat Wisata Pantai Nampu di Kabupaten Wonogiri ini memiliki pemandangan pasir putih dan batu karang yang sangat indah. Pantai ini bisa dibilang masih asri dan belum banyak terjamah manusia. Udara pantai yang segar dan bersih menjadi daya tarik tersendiri. Pantai Nampu ini berada di Kecamatan paranggupito Wonogiri, untuk mencapainya dapat dilakukan dengan naik bis umum dari Kota Solo ke arah Kecamatan paranggupito. Tiket masuk sangat murah yaitu hanya sebesar 2000 rupiah



3. Pantai Banyutowo
Tempat wisata pantai di Wonogiri yang satu ini juga terdapat di Kecamatan Paranggupito. Tepatnya Pantai Banyutowo terdapat di Gudangharjo kecamatan Paranggupito Wonogiri. Nama pantai ini "Banyutowo" memiliki arti air tawar. Berarti di pantai ini terdapat air tawar yang berasal dari sejumlah sungai di sekitarnya. Di pantai ini juga terdapat pemandangan berupa batu karang yang indah sehingga sangat sayang untuk dilewatkan.


4. Pantai Sembukan
Selain Pantai Nampu dan Banyutowo teryata di Kecamatan Paranggupito juga ada pantai lainnya yaitu Pantai Sembukan. Pantai ini selain memiliki pemandangan yang indah juga dijadikan sebagai tempat bermeditasi dan ngalap berkah bagi penduduk sekitar pantai. Pada waktu tertentu di lokasi Pantai Sembukan ini diadakan acara larung dan wayangan sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta. Selain untuk tempat wisata, di Pantai Sembukan juga dijadikan lokasi memancing yang tentunya mengasyikkan.



5. Air Terjun Setren
Kalau di Kabupaten Karanganyar memiliki Air Terjun Tawangmangu, di Wonogiri juga memiliki tempat wisata berupa air terjun yaitu Air Terjun Setren. Air Terjun Setren terdapat di Desa Setren Kecamatan Slogohimo Wonogiri. Letak air terjun ini sekitar 30 km arah timur dari Kota Wonogiri. Setiap hari lokasi wisata ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang biasanya oleh pasangan muda-mudi serta para pecinta alam.


6. Air Terjun Binangun Watu Jadah
Air Terjun Binangun Watu Jadah merupakan tempat wisata yang masih tersembunyi di Wonogiri. Tempat ini belum banyak orang yang tahu, karena untuk mencapai tempat ini dibutuhkan perjalanan darat dengan berjalan kaki sekitar satu jam, melewati sawah dan perbukitan Pegunungan Lawu Selatan. Air Terjun Binangun Watu Jadah ini terletak di wilayah Dusun Grenjeng, Desa Girimulyo, Kecamatan Jatipurno, Wonogiri